Sunday, July 27, 2008

Movie Review with my opinion - Death Sentence

Film ini bukanlah film baru… namun baru beredar di Cirebon sini… so gw tonton aja.. mengingat kemarin di Jakarta ga sempet nonton (pdhl gw pengen nontonnya Narnia – yang minggu kmrn baru diputer di Cirebon – ternyata... dah ganti aja... J). Film ini berkisah tentang pembunuhan atas seorang pemuda dari keluarga yang harmonis oleh seorang pemuda hanya untuk inisiasi masuk dalam sebuah geng. Ayah dari pemuda yang dibunuh ini sangatlah kehilangan dan akhirnya membalas dengan membunuh si pelaku (walaupun tidak disengaja). Kematian si pemuda itu membuat marah geng-nya yang dikepalai oleh sang Kakak. Sehingga terjadinya pertikaian antara sang ayah dan sang kakak tersebut.

Sang kakak ingin membalas dendam atas kematian adiknya itu sehingga rela membunuh keluarga si ayah ini. Sampai satu keluarga dibuat meninggal (pikir sang kakak tersebut). Tapi ternyata... yang meninggal dalam peristiwa itu hanyalah sang istri. Sang ayah pun akhirnya sangat murka dan berniat membalas dendam sampai tuntas. Sehingga dia membeli senjata dan berniat menghabisi semua anggota geng tersebut. Untuk endingnya sih sudah dapat terlihat. Bahwa good guy always win.

Tapi yang menarik dalam film ini adalah petikan ucapan sang polisi yang melindungi sang ayah dan keluarganya tersebut. “each side think that they are right. But at the end… no one wins… only death” yah kira2 gitulah.. mungkin ga tepat sama sih… Cuma intinya adalah… dalam perang tuh ga ada yang menang… masing-masing pihak selalu merasa bahwa merekalah yang benar. Pihak lainnya salah. Memang jika sudah ada dua kubu seperti itu.. kebenaran sejati akan sangat sulit ditemukan. Terlebih jika didasari oleh dendam dan amarah…. Hal itu kan menjadi sangat sulit lagi.... atas nama dendam dan amarah itulah... mereka menyebut diri yang benar. Yang ada pertikaian tidak terelakkan lagi. Dan akhirnya bila sudah terjadi pertikaian atau peperangan itu... hanya kematian yang akan menang.

Yah... sulit... memang sangat sulit untuk menilai kebenaran dalam peperangan. Setiap pihak yang terlibat selalu merasa benar dan kita, misalnya, sebagai pihak ketiga yang melihat... belum tentu akan dapat menemukan kebenaran sejatinya itu. Ada baiknya bila sudah ada ’peperangan’ di antara kita semua... kita menenangkan diri terlebih dahulu dan mencoba melihat dari sisi mereka (lawan kita). Memang easy to say hard to do... but... ga da salahnya untuk mencoba kan? Toh… Cuma berpikir sejenak… mungkin masuk juga bahan training di kantor lama tentang reaktif dan proaktif itu… intinya dalam menghadapi pertikaian, kita harus… stop… pikir… putuskan. Jangan bersikap reaktif yang langsung menanggapi apa yang ada dengan cepat dan tergesa-gesa.

Satu hal lagi yang gw suka dari film ini... masih mengenai quote: there will be no balance. Only chaos. Ini diucapkan oleh sang ayah. Dia mengucapkan dalam artian… dalam dendam… tidak akan ada keseimbangan… hanya kekacauan yang akan ditimbulkan. Awalnya dia berpikir… akan seimbang alias impas jika dia membunuh si pelaku itu… namun kenyataannya??? Dia harus rela kehilangan istrinya lagi… dan hidupnya tidaklah lagi sama seperti sebelumnya…. Kekacauan... itulah yang ditimbulkan dari aksi balas dendam....

Yah... memang... balas dendam tidak sehat. Dan sangat-sangat harus dihindari. Kita harus mampu mengampuni musuh kita dan segala tindakannya. Kita harus mampu mengasihi teman kita termasuk yang pernah bersalah pada kita. Like proactive, it’s easy to say... hard to be done. Untuk masalah ini aja gw pernah berbeda pendapat dengan teman kantor lama gw....

Kita dapat email tentang maaf dari seorang rekan kantor. Kita sama-sama baca. Di email ini dikisahkan ada seorang anak laki-laki yang suka sekali marah-marah terhadap orang lain, walaupun orang itu tidak melakukan salah pada anak tersebut, ia akan memarahinya. Suatu hari sang ayah datang kepadanya dan memberikan solusi untuknya. Setiap dia marah-marah kepada seseorang, hendaknya dia mengambil paku dan menancapkan paku tersebut di sebuah tiang di dekat rumahnya. Anak itu pun melakukan apa yang ayahnya katakan. Secara perilaku, anak tersebut mulai berubah. Dia tidak lagi gampang marah kepada semua orang. Selama satu bulan... tiang itu pun penuh dengan paku dari anak itu. Setelah itu, sang ayah meminta sang anak untuk mencabut paku-paku tersebut. Dia mengatakan pada sang anak. Jika kita telah meluapkan kemarahan kita kepada seseorang (kesalahan), semua akan meninggalkan bekas. Seperti bekas pada tiang tersebut. Walaupun orang tersebut misalnya telah memaafkan kita, tapi bekas itu akan tetap ada.

Nah hal terakhir inilah yang menjadi perdebatan gw ma temen gw. Menurut gw... hal itu memang benar... walaupun sebenarnya sudah memaafkan... luka di hati orang itu akan tetap ada. Walau mungkin dia tidak mau mengakuinya... sedang menurut temen gw itu... jika kita memaafkan seseorang... harus bersih semua. Tidak boleh ada bekas sama sekali. Ia menganalogikannya dengan sebuah lilin dari gel. Yang kalau kita tekan... dia akan kembali lagi seperti sebelumnya.

Walaupun ada perbedaan seperti itu, intinya dari kami berdua sama-sama setuju bahwa memaafkan lebih baik daripada membalas dendam dan sebagainya itu. Seperti yang disebutkan dalam film... mungkin yang akan timbul hanyalah sebuah kekacauan.... kekacauan tiada berakhir seperti dikisahkan dalam film itu. Jika saja, sang ayah memaafkan dan membiarkan si pelaku di penjara (dengan menjadi saksi di pengadilan – yang tidak ia lakukan), semua itu tidak akan terjadi. Kekacauan sehingga membuat sang istri meninggal. Semua itu akan dapat dihindarkan.

So guys and girls... who read this... let’s make peace… not war…. Hidup itu indah bila kita isi dengan cinta terhadap sesama kita. Jangan isi dengan kebencian dan dendam tidak berujung.

0 komentar:

Post a Comment

These are.... the blogs...