
Film yang sudah lama mengisi koleksi DVD saya. Film ini berkisah tentang Ana (diperankan dengan sangat baik oleh salah satu artis kesukaan saya, Queen Latifah) yang bekerja di sebuah yayasan social bernama Life Support. Yayasan ini adalah yayasan yang menangani konsul masalah-masalah AIDS. Dan Ana sendiri merupakan pengidap. Ana sehari-harinya bekerja keliling mengedarkan pamphlet dan membagi-bagikan kondom kepada orang-orang di sekitarnya agar lebih berhati-hati.
Ana mengidap AIDS karena kecerobohannya dulu bersama suaminya. Dulu dia adalah pengguna obat-obatan. Suatu hari sang suami berkata bahwa dia mendapatkan penyakit AIDS karena pernah menggunakan jarum suntik bersama-sama temannya yang ternyata sudah mengidap AIDS. Dari sanalah Ana mengidap AIDS yang mengharuskan dirinya mengkonsumsi 12 macam obat setiap harinya.
Ana memiliki dua orang putri. Putri pertamanya bernama Kelly diasuh oleh Ibunya Ana (pada saat berumur 25 tahun, sang ibu menuntut hak asuh anaknya agar tidak terjerumus dalam pergaulan Ana). Kelly tidaklah terlalu akur dengan Ana. Putri kedua Ana adalah hasil dari pernikahannya dengan sang suami yang mengidap AIDS juga, namun anak ini tidaklah terkena AIDS karena saat mengandung, Ana rutin meminum obat-obatan untuk mencegah anak yang dikandungnya dari kena AIDS.
Cerita bergulir pada seorang teman dari Kelly, yaitu Amare. Amare ini pengkonsumsi obat-obatan (tidak seperti Kelly yang bebas dari narkoba). Amare adalah anak dari teman ‘pergaulan’ Ana dulu. Suatu hari Amare menghilang dari rumah dan Kelly sangat khawatir karena dia sedang sakit keras. Kelly menemui Ana untuk meminta bantuannya mencari Amare.
Kisah bersentral di sana sambil mengetengahkan hubungan Ana dengan Kelly, sang ibu dan juga sang suami.
Satu yang saya ambil dari film ini adalah bahwa terkadang kita sangat self centered sampai-sampai kita melukai orang-orang yang mencintai kita melalui tindakan maupun perkataan kita yang tak pernah kita sadari. Hal inilah yang sering terjadi dalam kehidupan Ana. Ana merupakan orang yang cenderung self centered karena penyakitnya ini. Ia sangat berharap orang-orang di sekitarnya mengerti dan mengkasihaninya karena penyakitnya itu. Walaupun dia sangat tidak ingin terlihat sakit, tapi ternyata secara sikap, tanda dia sadari, Ana telah bersikap seperti itu… meminta semua orang untuk berfokus padanya.
Saya sendiri merasa masih jauh dari sempurna dan masih seperti Ana terkadang. Entah suka atau tidak suka, semua orang harus tau keadaan saya sehingga mereka kasihan pada saya dan tidak menghukum saya. Seperti itulah. Saya tidaklah ingin menjadi orang yang self centered. Saya ingin berbagi dengan yang lain. Tuhan, tolonglah hambaMu ini untuk menjadi orang yang lebih baik. Peringatkan saya bila saya telah melanggar janji saya ini Tuhan. Peringatkan saya…
Selain masalah self centered itu, saya juga mengambil makna dari film ini yang utama adalah mengenai AIDS dan penyebarannya. Penyakit ini bukanlah penyakit yang baru. Namun penyakit yang memang sudah merajalela dari dulu. Penyebaran penyakit ini pun sepertinya tidak berhenti. Bahkan cenderung meningkat. Penggunaan jarum suntik, seks bebas tanpa pengaman justru makin marak di kalangan anak muda yang membuatnya semakin rentan terhadap infeksi penyakit ini.
Kita sebagai sesama manusia harus terus saling mengingatkan dan menguatkan. Jangan sampai kita terjerumus dalam tindakan-tindakan yang dapat membuat kita menyesal seumur hidup. Tidaklah mudah hidup dengan AIDS di dada kita.
Temans, saya bukan mengajarkan untuk seks bebas ataupun seks di luar pernikahan (sebelum pernikahan). Tapi… jika memang sampai tidak tahan… harap gunakan selalu kondom. Jangan pernah sentuh barang narkotik sedikitpun. Apalagi sampai menggunakan jarum suntik bersama-sama. Mari kita ingat untuk menjaga diri kita yang berharga dan juga menjaga sesama kita.
0 komentar:
Post a Comment