Bersyukur
Thanks God for everything u have. It will make your life more beautiful.
Cerita ini dikisahkan ulang (diambil dari Wisdom Andrie Wongso) dengan gaya bahasa saya sendiri ya…
Alkisah ada seorang permaisuri yang memiliki kekayaan berlimpah (emang ada ya permaisuri yang berkurangan???). Dia suka sekali dengan sepatu. Koleksinya bejibun. Koleksinya sudah pasti terdiri dari hasil rancangan desainer-desainer sepatu terkenal. Kalau dipakai satu hari satu selama setahun, koleksinya pun masih belum habis semuanya juga alias belum kembali lagi ke sepatu pertama yang dipakainya.
Tapi…
Dengan kondisi seperti itu, sang permaisuri masih saja merasa ada yang kurang. Dia merasa sedih dan merasa kekurangan. Entah apa. Tapi dia terus merasakannya. Sampai akhirnya sang permaisuri jatuh sakit.
Dipanggilah para tabib-tabib terkenal di seluruh negeri untuk menyembuhkan sang permaisuri. Satu per satu tabib memeriksa penyakit permaisuri namun tidak dapat mengetahui apa penyakit dari permaisuri itu. Semua menyerah.
Sampai suatu hari datanglah seorang pengemis yang ingin mencoba menyembuhkan sang permaisuri. Awalnya penjaga melarang pengemis ini masuk. Akan tetapi permaisuri yang mendengar suara gaduh menyuruh pengemis itu masuk.
Kini.. pengemis itu berada di hadapan sang permaisuri. Saat itulah permaisuri mengetahui bahwa pengemis ini tidaklah dapat menggunakan kakinya. Cacat. Ya… cacat. Pengemis itu cacat.
Sang pengemis bertanya ada apa dengan permaisuri. Permaisuri pun menceritakan kehidupannya semua. Mulai dari kecil hingga dia menjadi permaisuri dan juga hobinya mengoleksi sepatu itu.
Sang pengemis hanya mengucap: “Enaknya hidup sebagai Anda permaisuri. Anda dapat memilih sepatu demi sepatu yang Anda inginkan. Tapi saya tetap berterima kasih kepada Yang Kuasa walaupun tidak memiliki semua itu. Karena saya jadi tidak pusing untuk memilih sepatu mana yang akan saya pakai hari ini sampai-sampai saya harus jatuh sakit.”
Saat itulah permaisuri merasa. Bahwa betapa tidak bersyukurnya dia selama ini. Begitu banyak yang lebih berkurangan dibanding dia. Tapi dia hanya memusingkan warna dan jenis sepatu apa yang dia akan pakai hari ini. Sampai-sampai membuatnya jatuh sakit. Sedangkan sebenarnya dia harusnya bersyukur karena masih diberikan kehidupan yang nikmat. Tidak seperti sang pengemis yang harus bekerja seharian memohon belas kasihan orang banyak agar dapat hidup.
Begitulah…
Kita (ya kita… saya dan kamu semua) terkadang menjadi si permaisuri. Tul? Jujur aja deh. Mensyukuri apa yang ada jarang kita lakukan. Karena kita melihat ke atas dan ke atas atas segala kekurangan kita dibandingkan yang di atas kita. Tapi kita tak pernah mencoba untuk melihat ke bawah. Di mana banyak lebih menderita dibandingkan kita selama ini.
Kadang kekurangan kita ini adalah suatu harta yang sangat berharga bagi orang lain. Orang-orang yang di sekitar kita yang mungkin selama ini telah luput dari perhatian kita sama sekali. Menjadi lebih aware akan keberadaan orang-orang di sekitar kita akan membuat kita menjadi lebih berharga dan mampu menghargai arti kelebihan dan kekurangan kita.
Mencoba menghargai segala yang ada di diri kita akan membuat kita lebih bahagia. Kecemasan demi kecemasan akan berangsur-angsur hilang. Tapi bukan berarti tidak boleh memandang ke atas ya. Tapi saat memandang ke atas… jadikan itu sebagai pecutan untuk menjadi lebih baik dengan segala kemampuan kita. Bukan jadikan semua (pandangan ke atas) itu sebagai iri hati or dengki karena tidak memilikinya.
Berbagilah juga dengan sesama kita. Dengan berbagi, saya yakin bahwa semua akan lebih indah lagi. Kita akan rasakan apa yang menjadi kelebihan yang tidak seberapa yang kita miliki ternyata berguna untuk orang lain. Bahagia mereka akan menjadi bahagia kita.

0 komentar:
Post a Comment